PANTAI KUKUP

Pantai Kukup terletak di Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari, sekitar 1 km timur Pantai Baron atau berada kurang lebih sekitar 25 km ke arah selatan dari Kota Wonosari. Waktu yang dibutuhkan untuk menuju ke Pantai Kukup jika dari Kota Yogyakarta ini membutuhkan waktu sekitar 2 jam menggunakan kendaraan bermotor, baik roda empat maupun roda dua. Selain kendaraan pribadi, terdapat juga angkutan umum untuk menuju ke Pantai Kukup.
Pantai kukup termasuk salah satu pantai yang berpasir putih. Disana terdapat jalan setapak yang membelah bukit sampai Pantai Baron. Selain itu juga terdapat sebuah pulau karang yang dihubungkan dengan jembatan kecil. Hamparan pantai yang cukup luas dan sangat indah dapat dilihat dari atas pulau karang tersebut.
Pantai ini kaya akan biota laut sehingga pantai ini terkenal dengan beragam ikan hias air laut yang dijualn oleh para pedagang di sepanjang pantai. Selain itu, di pantai ini terdapat gua alam yang teduh. Pantai ini mempunyai gardu pandang yang terletak di pulau terpisah, ibaratnya  jika di Bali ada Tanah Lot, maka di Kabupaten Gunung Kidul, Prov. D.I Yogyakarta ada Pantai Kukup. Di pantai ini juga terdapat pendopo cottage dengan fasilitas yang cukup memadai. Sama seperti di Pantai Baron, di setiap bulan sura di pantai ini juga diadakan sedekah laut.

pantai sundak


PANTAI SUNDAK
Keindahan  wisata Yogyakarta bukan saja terletak pada kota jogja saja, melainkan seluruh kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebagai salah satu contoh yaitu di Gunungkidul. Sebagai daerah perbukitan, di Gunungkidul banyak sekali terdapat pantai. Pernah mendengar tentang Pantai Parangtritis di Yogyakarta? …… “Sebagian besar orang pasti tahu bahwa pantai yang terkenal dengan kisah Ratu Pantai Selatan itu adalah ikon pantai yang ada di Yogyakarta. Akan tetapi, masih banyak pantai yang tidak kalah indahnya dengan pantai Parangtritis di Daerah Istimewa Yogyakarta yang belum banyak diketahui oleh banyak orang. Dari sekian pantai tersebut salah satunya adalah pantai Sundak .
Untuk sampai di Pantai Sundak kita bisa menempuh perjalanan dari Yogyakarta dan memakan waktu sekitar 2 sampai 2,5 jam. Jangan perna berpikir bahwa perjalanan tersebut akan membosankan dan melelahkan karena di sepanjang perjalanan kalian tidak akan bosan, karena disepanjang jalan kita akan menikmati pemandangan alam berupa bukit kapur putih yang bila saat musim kemarau akan terlihat sangat indah dan cantik. Jika kalian ingin beristirahat sejenak maka bisa melihat pemandangan Kota Yogyakarta dari atas bukit kapur, keren kan? Jalan menuju Pantai Sundak juga sudah beraspal jadi tidak perlu khawatir perjalanan menjadi tidak nyaman.

Sundak, adalah sebuah pantai di Daerah Istimewa Yogyakarta, tepatnya di desa sidoharjo kecamatan tepus, Kabupaten Gunungkidul. Tepatnya berada di jajaran pantai selatan berderetan dengan pantai Kukup, Krakal, Drini, Sepanjang dan Pantai Baron. Pantai Sundak berada di ujung paling timur deretan pantai-pantai Baron, Krakal, Kukup. Pantai ini memang relatif alami, cantik dengan dominasi laut berwarna biru dan pasir pantai yang berwarna putih. Pantai Sundak sangat menarik dikunjungi di pagi hari maupun sore hari. Sunset dan sunrise di pantai ini memang menawarkan pemandangan alam yang sangat indah sekali. Pantai yang relatif sepi ini mungkin akan menawarkan sesuatu yang menarik bagi Anda yang menginginkan sebuah ketenangan. Pantai Sundak tidak seterkenal pantai baron, ataupun Partangtritis, tapi buat orang yang ingin mencari ketenangan tentu pantai Sundak adalah pilihan yang tepat. Hamparan pasir putih di sepanjang bibir pantai, menunggu desiran Ombak yang menerpa, seakan memberikan kenyamanan dan ketenangan bagi orang yang mengnjunginya.

Pantai Sundak dengan pasir putih yang membentang ini tidak hanya memiliki pemandangan yang indah, tetapi juga menyimpan cerita yang sangat unik. Dimana cerita sejarah yang menceritakan bagaimana bisa dinamakan pantai Sundak berawal dari pertarungan anjing dan landak. Nama pantai Sundak mulai digunakan setelah pantai ini menjadi tempat pertarungan anjing dan landak. Pertarungan terjadi karena seekor aning yang sedang kelaparan secara kebetulan bertemu dengan seekor landak. anjing mengejar landak yang terlihat di pantai kemudian landak bersembunyi di dalam goa di dekat pantai. Si Anjing terus memburu masuk ke dalam goa. Tak lama kemudian, anjing itu keluar dengan tubuh basah kuyup, perut kenyang dan beberapa luka akibat tertusuk duri landak. peristiwa ini diketahui pemilik sang anjing, yang bernama Arjasangku. Arjasangku lalu masuk ke dalam goa dan menemukan sisa-sisa tubuh landak yang sebagian sudah dimakan sang anjing. Sejak saat itu, pantai ini dinamakan Sundak yang berasal dari kata asu (anjing) dan landak. Pantai ini dinamai “Sundak” sejak tahun 1976. Sebelumnya pantai ini disebut pantai Mbedah. Nama ini dberikan penduduk karena di pantai sebelah timur terdapat sungai yang mengalir ke laut. Aliran sungai ini membelah hamparan pasir putih. Warga setempat menamainya wedimbedah (hamparan pasir yang terbelah). Lama-kelamaan warga setempat mengambil nama singkatnya saja yaitu pantai mbedah.


Air Terjun Sri Gethuk - Gunung Kidul - Jogja

       Air Terjun Sri Gethuk atau dengan nama lain Air Terjun Slempret memiliki keunikan tersendiri karena bercabang pada dua celah tebing dan muncul dari sela-sela tebing karst yang gersang. Air tejun ini memiliki ketinggian sekitar 80 meter dan berada tepat di tepi Sungai Oyo.  Ada tiga sumber mata air yang menyembur di sekitar air terjun Sri Gethuk, yaitu mata air Dung Poh, Ngandong dan Ngumbul. 

        Dinamai Air Terjun Sri Getuk atau Sri Ketuk karena menurut kepercayaan masyarakat setempat pada masa lalu, sering terdengar suara gamelan, yang diyakini milik raja jin Slempret yang bernama Angga Mendura.  Konon, keberadaan air terjun ini merupakan lokasi pasar jin. Di malam-malam tertentu, masyarakat sering mendengar bunyi-bunyian seperti slompret dari arah air terjun itu. Tapi jika suara itu didekati, suara tersebut akan menghilang. Makanya masyarakat menyebutnya Air Terjun Slempret.
     Potensi wisata yang dimiliki Kabupaten Gunungkidul tidak kalah menariknya dibandingkan dengan Kabupaten lainnya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), salah satunya adalah Air Terjun Sri Gethuk, tapi masyarakat menyebutnya Air Terjun Slempret. Air Terjun yang memiliki tebing indah ini letaknya berada di Padukuhan Menggoran, Desa Bleberan Kecamatan Playen Kabupaten Gunungkidul. Air Terjun Slempret yang tak jauh dari lokasi wisata Gua Rancang Kencono ini memiliki keindahan tebingnya dengan ketinggian sampai dengan 50 meter dengan suasana yang sangat romantis.
       Air yang mengalir dari tebing yang tinggi ini jatuh ke hamparan sungai Oya dengan keindahan yang eksotis yang diwarnai dengan gemericik suara air ditambah hiasan daun nyiur yang melambai. Kawasan Air Terjun Slempret ini juga didukung dengan 3 sumber mata air yang cukup besar yakni sumber mata air Dong Poh, Ngandong dan Ngumbul dengan rata-rata debit 30 s/d 60 liter per detik. 





      Masyarakat menyebut lokasi ini sebagai Air Terjun Slempret karena menurut legenda nama slempret berasal dari kata slompret yang merupakan alat musik tiup. Konon cerita masyarakat yang beredar, lokasi tersebut merupakan tempat atau pusatnya para jin atau makhluk halus yang dipimpin oleh Jin Anggo Menduro. Jin Anggo Menduro ini adalah jin yang sangat menyukai akan kesenian yang dibuktikan dengan suara bebunyian semacam drum band dan suara terompet atau disebut dengan bahasa jawa pandulon. Suara bebunyian ini terdengar di saat-saat tertentu di lokasi Padukuhan Menggoran yang berasal dari lokasi air terjun, namun jika didekati suara tersebut akan hilang. Suara bebunyian yang mendominasi adalah suara selompret hingga akhirnya masyarakat menamakan air terjun ini adalah Air Terjun Slempret, meski namanya Air Terjun Sri Gethuk.

      
  “Percaya atau tidak, hampir setiap saat terdengar suara seperti orang main drum band, suara terompet sangat mendominasi tapi kalau didekati suara itu akan hilang. Masyarakat disini sangat mempercayai mitos ini bahkan gamelan atau alat musik yang dimiliki Jin Anggo Menduro bisa dipinjam masyarakat yang memiliki kemampuan atau kekuatan linuwih yang bisa dibawa pulang dan digunakan layaknya gamelan yang kasat mata,” ungkapnya. 
         Suara tetabuhan gamelan ataupun drum band selalu saja terdengar di lokasi ini (air terjun) terlebih pada masa penghujan ataupun kemarau, dan ini sudah terjadi sejak dahulu kala hingga sekarang. Dalam cerita legenda dilokasi wisata Slempret ini ada beberapa tempat untuk menyimpan gamelan dan drum band yang dimiliki oleh Jin Anggo Menduro, yakni Mergangsan dan Sri Kethuk. Mergangsan berada di sebelah bawah lokasi sungai Oya. Tempat ini disebut Mergangsan karena digunakan untuk menyimpan Gongso atau Gamelan, dan Sri Kethuk berada di lokasi air terjun yang digunakan untuk menyimpan salah satu instrument gamelan dengan nama kethuk hingga akhirnya disebut menjadi Sri Gethuk.
       Untuk menuju wisata air terjun ini, pegunjung dapat berjalan melewati setapak pematang sawah sambil berpetualang sejauh 450 meter yang menuruni anak tangga yang masih berbatu dan tanah becek. Fasilitas sarana dan prasarana di kawasan ini memang belum memadai terlebih sarana jalan yang masih berbatu dan naik turun. Jika tidak ingin jalan kaki, di daerah dekat Goa Rancang disediakan angkutan yang akan membawa Anda ke wisata Air Terjun Slempret, namun kendaraan roda empat ini hanya ada setiap hari minggu saja. Sementara untuk bisa sampai ke lokasi air terjun, Anda bisa menyewa perahu gethek atau perahu tradisional dari bambu yang sudah dilengkapi dengan kincir air. Per orang dikenakan biaya Rp 3.000,00 pulang pergi. Untuk perahu karet memang tersedia dan baru ada satu unit milik Tim SAR yang sewaktu-waktu digunakan dalam kondisi yang urgent ataupun emergency.




            Kawasan wisata Air Terjun Slempret ini memang masih tergolong anyar dan baru dicanangkan 1 Juli 2010. Fasilitas pendukung di kawasan wisata air terjun ini pun baru hanya ada perahu gethek yang dibuat secara swadaya oleh masyarakat yang menghabiskan dana Rp 6,5 Juta. Harapannya kawasan wisata air terjun ini bisa menjadi obyek wisata unggulan kabupaten Gunungkidul dan semua komponen dapat membantu untuk mempromosikan potensi wisata ini.

Goa Pindul



Gua Pindul adalah salah satu obyek wisata minat khusus yang terletak di Dusun Gelaran, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunung Kidul. Gua Pindul merupakan salah satu dari 7 gua dengan aliran sungai bawah tanah yang ada di Desa Bejiharjo. Gua ini berada sekitar 7 Km arah utara Kota Wonosari, atau sekitar 2 jam dari pusat Kota Yogyakarta.
            Gua Pindul memiliki panjang sekitar 350 m, lebar hingga 5 m, jarak permukaan air dengan atap gua 4 m, dan kedalaman air sekitar 5-12 m. Gua tersebut memiliki 3 zona. zona terang, zona remang, dan zona gelap. Para wisatawan yang menelusuri gua ini akan menempuh waktu ± 45 menit.

 Istilah lain yang digunakan untuk menyebut kata menelusuri Gua Pindul adalah Cave tubing. Cave tubing merupakan petualangan menyusuri sungai yang menggabungkan antara body rafting dan caving, Jika rafting (arung jeram) adalah kegiatan menyusuri aliran sungai dengan menggunakan perahu, maka cave tubing adalah kegiatan menyusuri sungai dengan menggunakan ban. Gua Pindul memiliki aliran air yang tenang. Oleh karena itu kegiatan cave tubing di Gua Pindul ini bisa dilakukan oleh orang dewasa maupun anak kecil. Waktu terbaik untuk melakukan cave tubing ini adalah pagi hari sekitar pukul 09.00 atau 10.00 WIB. Pada pagi hari, air sungai tidak terlalu dingin, jika cuaca sedang cerah pada jam-jam tersebut akan muncul cahaya surga yang berasal dari sinar matahari yang menerobos masuk melewati celah besar di atap gua. 
Mekanismenya, setelah wisatawan mendaftar di sekretariat Desa Wisata Bejiharjo dan memilih paket wisata jelajah Gua pindul, selanjutnya wisatawan akan diminta untuk mengenakan alat keselamatan berupa jaket pelampung dan sepatu, kemudian dengan membawa ban karet yang telah disediakan wisatawan akan diajak oleh pemandu menuju mulut gua pindul. Setelah itu, pengenalan dan briefing akan dilakukan oleh sang pemandu sebelum wisatawan memulai petualangan.
Ketika tiba waktunya memulai petualangan, masing-masing peserta akan dibantu oleh pemandu mengenakan ban karet. Wisatawan tidak perlu takut basah, karena bagian tubuh yang basah hanya bagian punggung, sehingga aman bagi anda yang ingin mengabadikan suasana di dalam gua. Bagi wisatawan yang tidak bisa berenang tidak perlu khawatir karena pemandu akan mendorong ban karet yang dinaiki wisatawan. Wisatawan tak perlu susah payah untuk mengayuh pelampung, tugas wisatawan hanya menikmati sensasinya.

Sambil merasakan dinginnya air sungai di tengah gua yang minim pencahayaan, pemandu akan bercerita tentang asal-usul penamaan Gua Pindul. Menurut legenda yang dipercaya oleh masyarakat dan dikisahkan turun temurun, nama Gua Pindul dan gua-gua lain yang ada di Bejiharjo tak bisa dipisahkan dari cerita pengembaraan Joko Singlulung mencari ayahnya. Setelah menjelajahi hutan lebat, gunung, dan sungai, Joko Singlulung pun memasuki gua-gua yang ada di Bejiharjo. Saat masuk ke salah satu gua mendadak Joko Singlulung terbentur batu, sehingga gua tersebut dinamakan Gua Pindul yang berasal dari kata pipi gebendul.
Di dalam gua, wisatawan akan mulai disuguhi keindahan stalagtit dan stalagmit. Di beberapa bagian atap gua juga terdapat lukisan alami yang diciptakan oleh kelelawar penghuni gua. Semakin ke dalam, suasana semakin gelap, salah seorang pemandu terus menjelaskan  dari bagian-bagian gua, sedangkan seorang pemandu lagi membantu mendorong ban karet peserta.

Pemandu akan menjelaskan sebuah tempat yang pada zaman dahulu kala pernah digunakan orang yang beragama Buddha untuk bertapa. Hal tersebut dibuktikan dengan ditemukannya peninggalan berupa arca, dan satu lagi, di depan tempat tersebut terdapat sebuah batu yang menurut mitos dapat menambah keperkasaan lelaki. Percaya atau tidak itu hanya mitos yang beredar di masyarakat. Perjalanan dilanjutkan dengan melewati atap gua yang indah, atap ini terkenal dengan nama Air Mutiara dan sekali lagi menurut mitos air yang menetes dari stalagtit tersebut dapat membuat awet muda bagi wanita yang meminumnya ataupun melewatinya.
Semakin ke dalam, lorong gua semakin menyempit dan hanya bisa dilewati seukuran satu ban sehingga wisatawan akan melewatinya satu persatu secara bergantian. Setelah melewati lorong ini, wisatawan akan disambut dengan sekelompok stalagtit yang cukup indah yang membentuk mirip tirai sehingga dinamakan hiasan batu tirai
Saat melakukan susur gua ini, wisatawan akan menemukan sebuah stalagtit yang sudah menyatu dengan stalagmit sehingga tampak seperti sebuah pilar dengan ukuran lebar lima rentangan tangan orang dewasa (Soko Guru). Stalagtit ini merupakan stalagtit yang terbesar di Gua Pindul dan mempunyai peringkat no 4 di dunia. Selain itu, Stalagmit dan stalagtit yang menyatu tersebut memiliki peringkat terbesar ke-4 di dunia, butuh 5 orang untuk melingkarinya, bahkan celahnya hanya cukup dilewati satu orang saja. Besar ditengah-tengah gua yang katanya sebagai tiang gua.


Kegelapan semakin pekat, inilah zona yang disebut sebagai zona kegelapan abadi. Di sini sesaat pemandu akan mematikan lampu dan mengajak anda untuk merenung sejenak, dan yang menarik bagi wisatawan yang datang bersama pasangannya, akan diberikan waktu sesaat oleh pemandu untuk berduaan  mengungkapkan rasa cintanya.
Memasuki zona terakhir yang disebut juga gua vertical atau juga disebut luweng. Wisatawan dipersilahkan untuk beristirahat sejenak dan bagi yang bisa berenang akan dipersilahkan untuk berenang tapi dengan syarat tetap mengunakan jaket pelampung. Setelah itu, wisatawan akan meninggalkan gua vertical, bagi yang bisa berenang diperbolehkan berenang sampai di mulut keluar gua dan di luar inilah tempat di mana wisatawan dapat berenang sepuasnya. Bagi wisatawan yang memiliki keberanian lebih, dapat meloncat dari atas tebing. Wisatawan tersebut tidak perlu khawatir terbentur batu, karena kedalaman sungai mencapai 15 meter. Sekali lagi tetap harus mengenakan pelampung dan dengan pengawasan pemandu.
Tempat keluar gua ini juga disebut sebagai Bendungan Banyumoto. Bendungan ini dibangun sejak jaman Belanda dengan latar belakang perbukitan karst pun menyambut.

Pantai Giri Sarangan

          Pantai giri sarangan adalah sebuah pantai yang terletak persis sebelum pantai sundak, gunung kidul. Berada sekitar  70 kilometer dari kota Yogyakartadan 30 km ke arah selatan dari Kota Wonosari yang terletak tidak jauh dari pantai Baron, memiliki pemandangan alam pantai dan bongkahan yang sangat elok.  

Panorama yang ditawarkan oleh pantai ini sangat indah. Kombinasi dari pemandangan laut, pasir yang luas dan bersih, dan bongkahan karang di kedua sisi pantai ini sangat menawan. disebelah barat pantai ini, berdiri kokoh bongkahan karang yang mengagumkan, terdapat akses jalan yang cukup besar ( lintasan offroad ) sehingga memungkinkan untuk dapat kita telusuri sampai pada puncak karang tersebut yang siap menyajikan anda view berupa lautan luas, gugusan karang, dan jajaran pantai yang terdapat di gunung kidul ini.
Menurut dari keterangan dari berbagai sumber, Pantai ini tergolong baru di temukan, Sampai sekarang hanya sedikit orang yang telah mengunjungi pantai ini. Karena itu, kebersihan pantai ini masih terjaga sehingga menampakkan pasir yang belum tercemar menjadi lebih indah, ditambah bongkahan-bongkahan karang yang alami terbentuk dari hempasan air menambah takjub pulau ini.So, guys, jadilah bagian dari yang sedikit itu yang berkunjung ke pantai ini. ^^

Pantai Baron

 Pantai Baron terletak di Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari, sekitar 65 Km dari kota Yogyakarta dan 23 Km arah selatan kota Wonosari, merupakan pantai pertama yang ditemui dari rangkaian kawasan Pantai Baron, Kukup, Sepanjang, Drini, Krakal dan Sundak.
Pantai ini merupakan teluk yang diapit oleh dinding bukit yang hijau yang dipenuhi pohon kelapa. pantai ini juga terdapat muara sungai bawah tanah yang bisa digunakan untuk pemandian setelah bermain di laut.Selain itu pengunjung dapat menikmati aneka ikan laut segar maupun siap saji, dengan harga terjangkau.
Pada sisi sebelah timur dapat dicapai melalui jalan setapak yang melingkar terdapat bukit kapur, wisatawan bisa beristirahat digardu pandang, sambil menikmati hamparan pantai yang indah, menghirup udara pantai yang menyegarkan dan melihat indahnya matahari tenggelam dikala senja tiba.

Goa Rancang Kencono

Gua Rancang Kencono terletak di Padukuhan Menggoran II, Desa Bleberan, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta.


         Keindahan  wisata Yogyakarta bukan saja terletak pada kota jogja saja, melainkan seluruh kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebagai salah satu contoh yaitu di Gunungkidul. Sebagai daerah perbukitan, di Gunungkidul banyak sekali terdapat gua. Dari sekian banyak gua-gua yang sudah tereksplorasi oleh para peneliti, ada satu gua yang keberadaannya sudah diketahui sejak lama, yakni sekitar 300-an tahun yang lalu. Gua tersebut adalah Gua Rancang Kencono yang terletak di kawasan Desa Wisata Bleberan, Playen.
 Sejarah, Dinamakan Rancang Kencono, sebab menurut riwayat yang diyakini penduduk setempat, Rancang bermakna merancang, mengkonsep, atau menyusun. Sehingga Rancang berarti tempat untuk perencanaan sedangkan kencono artinya adalah emas atau kemuliaan. Gua Rancang Kencono memiliki ruang lapang berukuran 20m x 20m di dalamnya tersebut pernah digunakan sebagai tempat pertemuan Pangeran Diponegoro dan Sentot Prawirodirjo guna menyusun strategi penyerangan terhadap Belanda. Menurut buku “Legenda & Budaya Desa Bleberan” yang diterbitkan oleh pemerintah Desa Bleberan, Gua Rancang Kencono ditemukan pada tahun 1720. Waktu itu ada beberapa Laskar Mataram yang melarikan diri dari kejaran Belanda. Dalam pelariannya, dua anggota Laskar Mataram yang bernama Kyai Putut Linggo Bowo dan Kyai Soreng Pati menemukan sebuah gua yang dapat digunakan untuk beristirahat. Goa tersebut adalah goa Rancang Kencono.



Perlu diketahui, bahwa perjalanan menuju Gua Rancang Kencono ini dapat ditempuh kurang lebih selama satu setengah (1,5) jam dari kota Yogyakarta. Akses perjalanan menuju lokasi ini memang masih sangat sulit, karena melewati jalan aspal yang sempit dan berlubang, sehingga harus berhati-hati untuk melewati jalan tersebut. Selain itu, kanan kiri jalan menuju gua banyak tumbuh pohon-pohon jati yang menambah panorama alami di tengah-tengah perjalan. Mendekati objek wisata Gua Rancang Kencono, kita akan melewati jalan tanah dan berbatu yang tentunya sangat licin saat dilewati.




Untuk memasuki Gua Rancang Kencono, cukup menuruni tangga batu yang sudah dibangun sejak dulu. Sebatang pohon klumpit yang tingginya sudah melampaui atap gua menyambut dengan gagahnya, sehingga keunikan goa itu sediri.
Di dalam gua terdapat sebuah tempat gelap yang dahulu sering digunakan untuk bersemedi. Untuk menuju tempat tersebut, kita harus melewati lorong yang gelap dan sempit.
Satu keistimewaan Gua Rancang Kencono dibandingkan dengan gua-gua lainnya adalah ditemukannya tempat yang luas di tengah-tengah gua. Tempat ini seringkali digunakan untuk acara sarasehan, camping, bahkan warga setempat juga sering menggunakannya sebagai arena bermain bulutangkis. Hal menarik lain yang ada di goa Rancang Kencono itu, sering sekali dipergunakan untuk pengambilan gambar untuk film-film laga seperti Tutur Tinular, Misteri Gunung Merapi, dll.




Berwisata ke Gua Rancang Kencono sangatlah menarik dan menyenangkan, dikarenakan objek wisata ini masih sepi dan banyak wisatawan yang belum mengetahui objek wisata Gua Rancang Kencono yang terdapat Desa Bleberan Gunung Kidul, Yogyakarta. ^_^